Selamat Datang Di Website Kontakperkasa Futures Surabaya

PT KP PRESS | Diserang Corona, Ekonomi RI Bisa Bertahan?

Written By KPFSURABAYA on Thursday, March 5, 2020 | 9:03 AM



PT KP PRESS SURABAYA - Ekonom senior Chatib Basri bicara soal bagaimana Indonesia bisa bertahan dari imbas virus corona yang menghantam perekonomian.

Dia mengatakan dengan melemahnya perekonomian China mengganggu perdagangan banyak negara. Namun untung bagi Indonesia, menurutnya ekonomi Indonesia tidak terlalu banyak mengandalkan perdagangan.

Berbeda dengan Singapura, yang menopang perekonomiannya dari perdagangan global. Kalau China mengurangi impor kemungkinan akan menjadi demand shock yang mempengaruhi ekonominya. Sementara di Indonesia hanya mengandalkan 32% dari perdagangan global.

"Selama ini China jadi sumber production network. Barang jadi itu banyak dri China, maka dia butuh input bahan baku dari negara lain. Nah dengan outbreak corona ini maka terjadi demand shock, produk yang diekspor ke China akan berkurang. Ini yang terjadi bisa terjadi di Singapura," kata Chatib di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2020).

"Share global trade GDP kita kecil cuma 32%, kalau global colapse, 68% local itu survive," katanya.

Indonesia sendiri melakukan ekspor batu bara dan kelapa sawit ke China, menurutnya dua komoditas ini yang akan terpukul harganya karena kurangnya permintaan dari China. Maka itu, Chatib mengatakan pemerintah harus mencari cara agar belanja dalam negeri bisa tetap bertahan sehingga bisa menutup imbas dari turunnya perdagangan.

"Sektor batu bara dan sawit akan kena, ekspornya turun pendapatan turun maka akan impact ke kosnumsi maka daya beli akan turun. Kalau pemerintah nggak mitigasi ini akan merosot," kata Chatib.

Menurutnya, Pemerintah harus mendorong belanja dalam negeri. Menurutnya, dengan adanya keinginan belanja maka akan ada permintaan, kalau ada permintaan aktivitas ekonomi akan berjalan lancar karena pengusaha pun akan melakukan produksi.

"Yang kita butuhkan adalah belanja, kalau ada yang belanja maka akan ada permintaan. Kalau ada permintaan maka perusahaan ada produksi. Ekonomi jalan," ungkap Chatib.

Menurutnya, salah satu pemicu belanja dalam negeri adalah dengan memberikan stimulus bantuan ke kalangan menengah ke bawah.

"Sekarang yang belanja pemerintah, uang di-spend agar akrivitas ekonomi jalan. Yang paling dibutuhkan adalah alirkan ke kelompok menengah bawah, stimulus pemerintah bicara ke bantuan sosial maka akan dorong ke permintaan, karena kalangan menengah ke bawah pasti akan spend uang bantuannya," ungkap Chatib.

Di sisi lain, menurut Chatib, China juga berperan memberikan bahan baku untuk Indonesia. Dalam pembuatan masker misalnya, ada bahan baku yang harus diimpor dari China.

Menurutnya, pemerintah harus mencari cara subtitusi barang dari China, kalau tidak maka akan ada kenaikan harga yang signifikan.

"Kalau terjadi disrupsi dalam supply, maka akan ada kenaikan harga karena kelangkaan. Maka kita mesti cari subtitusi barang dari China. Kayak Pak Erick bilang bahan baku masker susah dari China, maka kita harus cari negara lain," kata Chatib. PT KP PRESS

Baca juga artikel lainnya
1. Bitcoin ‘Bikin Sakit’, Lebih Baik Pilih Emas | PT KP PRESS
2. Investasi Emas Tetap Menggiurkan Sampai Kuartal Pertama 2018 | PT KP PRESS
3. Investasi Masih Menarik Tahun 2018 | PT KP PRESS
4. Menengok Prospek Bisnis Investasi di Tahun Politik | PT KP PRESS
5. Tahun 2018, Bisnis investasi Dinilai Tetap Menarik | PT KP PRESS
6. 2018 Emas dan Dolar Pilihan Menarik untuk Investasi Berjangka | PT KP PRESS
7. KPF: Bisnis Investasi Masih Menarik pada 2018 | PT KP PRESS
detik.com
Share this article :

Post a Comment